Resume Kajian Ust Oemar Mita: Aku dan Kamu Dalam Pusaran Konflik Rumah Tangga
Yang benar itu harus baik tapi yang baik juga harus benar dalam kehidupan, semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan dan kebenaran dalam perjalanan hidup kita. Aamiin.
Di dunia yang semakin berkembang tidak ada imun yang perlu kita tingkatkan kecuali kesyukuran. Seperti halnya yang sudah pernah disyaratkan oleh Nabi bahwa ada tiga fitnah yang datang sebelum fitnah dajjal, ketiganya pasti ada dalam kehidupan manusia, yaitu
1. Fitnatu ahlas yaitu fitnah pertikaian dan perpecahan
2. Fitnatu sarra yaitu fitnah melimpahnya harta dimana-mana
3. Fitnatu duhaima yaitu sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah
Di zaman dunia yang seperti ini, fitnah tersebut datang bertubi tubi dalam kehidupan kita, maka tidak ada sikap terbaik yang kita lakukan kecuali bersyukur. Karena sesungguhnya materialisme dan kapitalisme yang sering kita jumpai, menjadikan iman kita turun sehingga yang kita lihat adalah kacamata negatif atau merasa kurang.
Syukur akan menjadikan kita tenang dan bersahaja dalam kehidupan. Dengan syukur kita tidak mudah berputus asa. Syukur itu mahal karena ia yang menjadikan diri untuk rendah hati. Orang mukmin itu senantiasa bersahaja dalam segala urusan. Mereka tidak punya ambisi kecuali untuk negeri akhiratnya. Dengan syukur itu pula yang membuat kita tidak ngoyo, tidak berlebihan ketika menginginkan sesuatu.
Ketika seseorang berada dalam fitnatu sarrha, maka ia tidak pernah menikmati proses sehingga membuat ia memotong jalan kompas. Dua dosa yang paling besar sebelum datangnya dajjal ialah dosa zina dan dosa riba.
Kenapa? dosa zina ketika orang tidak mau bersabar dengan ketentuan akad yang sudah ditentukan waktunya 50000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Dosa riba, ketika setiap orang tidak sabar menunggu setiap tetesan rezeki yang Allah putuskan padanya. makanya Nabi pernah mengatakan “Janganlah karena lambatnya suatu rezeki membuatmu memotong kompas untuk mendapatkan sesuatu untuk sesuatu yang haram.” Dosa riba itu tidak bisa dipandang dengan pandangan yang salah karena dosa riba harus dikembalikan sesuai dengan perkataan Al Qur’an.
Semoga Allah menuntun kita menjadi hamba yang senantiasa bersyukur kepadaNya dalam setiap urusan. Bukan bahagia yang membaut kita bersyukur tetapi bersyukur nanti kita akan dibahagiakan oleh Allah.
Dalam hidup, puncak yang paling kita tuju dalam langkah kehidupan yaitu menjadi penghuni syurga. Karena penghuni syurga menjadikan seseorang mendapatkan rezeki terbaik. Sebagaimana dalam surah At Talaq ayat 11
“Siapapun yang beriman kepada Allah dan dia beramal shaleh maka ia dimasukkan ke dalam syurga. Didalamnya terdapat banyak kenikmatan yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan kekal didalamnya. Maka itulah rezeki terbaik dalam kehidupan manusia.”
Puncak tertinggi manusia ketika mendapatkan rahmat ialah menjadi ahlul jannah. Maka tidak betul ketika ada seseorang yang berkata “Tidak apa-apa di neraka, asal mendapatkan ridha Allah”. Ungkapan ini sangatlah keliru karena ridhanya Allah tidak pernah ada di dalam neraka.
Ada tiga hal perkataan ketika seseorang akan masuk kedalam surga.
1. “Salāmun 'alaikum bimā ṣabartum.” Selamat atas kesabaran kalian di dunia. Sehingga inilah yang membuat orang bergembira memasuki surga, sebab sabarnya sudah ditinggalkan di dunia dan yang tertinggal hanya kesyukuran pada apa yang Allah janjikan dalam kehidupan surga.
2. “Udkhulul-jannata antum wa aājukum.” Masuklah kamu kedalam surga bersama ibu bapakmu yang paling kamu kasihi dan kamu cintai. Orangtua tersebut masuk ke surga bukan sebab shalat atau puasanya semata tetapi karena syafaat dari anak anak yang sudah mereka didik menjadi jejak kebaikan yang menyusul kepada mereka kebaikan akhirat.
3. “Udkhulul-jannata antum wa azwâjukum tuḫbarûn.” Masuklah kalian ke dalam surga bersama dengan pasangan yang kalian cintai dalam keadaan hati yang digembirakan.
Menjadi suami jika tidak mengingat surga maka akan lelah menghadapi kekurangan istri, istri pun juga jika tidak mengingat surga maka ia juga akan kelelahan menghadapi berbagai macam ego yang terkadang tidak bisa diterima oleh mereka yang dominan perasaannya.
Dengan mengingat surga itulah yang menjadi kekuatan kita dalam kehidupan berkeluarga. Jika hanya mengandalkan cinta, cinta itu bisa menipis dan pudar karena kekurangan serta bisa berkurang karena kesalahan. Tetapi ketika kita ingin membersamai pasangan kita karena sama-sama ingin mendapatkan surga, kita akan memiliki rasa maaf yang lebih besar, serta maklum dengan kekurangan pasangan kita. Jangan mempertahankan keluarga karena cinta, sebab itu akan putus ditengah jalan. Tapi jadikan surga sebagai alasannya untuk mendapatkan janji manis dari Allah.
Bagaimana Jika Ada Konflik Dalam Kehidupan Rumah Tangga?
Kita merasa keluarga yang jauh dari konflik adalah keluarga yang baik sedangkan keluarga yang berkonflik adalah aib. Padahal yang perlu kita ketahui konflik itulah tidak lepas dalam hidup kita. Saat dahulu, Rasulullah dan para sahabat ketika memiliki konflik mereka akan berada didalam masjid lebih lama. Konflik tidak selalu membawa keburukan melainkan membawa kebaikan dan keberkahan.
Pernah merasa ngga ketika kamu pasangan suami istri ketika sedang berkonflik maka baikannya akan lebih mesra setelahnya? Inilah yang membuktikan bahwa konflik itu bukanlah aib. Konflik itu bisa membuat kita evaluasi, mawas diri dan merenungkan.
Pertengkaran sebab dari dua orang yang saling mencintai tidak termasuk kategori dosa. Dosa jika manajemen penyelesaiannya tidak benar. Konflik ini hal yang dimaklumi dan diwajarkan oleh Allah dalam kehidupan suami istri sebab tidak ada badai dalam kehidupan rumah tangga adalah hal yang mustahil.
Mengapa Konflik Hadir?
Kadang-kadang konflik dihadirkan agar kita kembali mengingat untuk tidak berlebihan dalam mencintai makhluk lebih dari mencintai Allah. Allah itu maha pencemburu sehingga ketika kita mencintai sesuatu lebih dari mencintai Allah, maka sesuatu itulah yang akan menyiksa kita dalam hidup. Ketika kita menyadari pasangan kita memiliki kekurangan begitupun sebaliknya, hal itu hanya untuk kita menyadari tidak ada hal yang lebih patut untuk diperjuangkan kecuali cintanya Allah.
Seperti kisah Buya Hamka ketika istrinya meninggal, beliau menjadi lebih sensitif kepada Allah. Lebih memperbanyak shalat, puasa dan juga tilawahnya. Hal ini beliau lakukan ketika menyadari bahwa beliau sangat bersedih ketika ditinggal wafat sang istri. Saat menyadari hal ini beliau berusaha menolak dengan keras dan berupaya menambah ibadahnya agar Allah mengetahui bahwa hanya Allah dzat yang paling dicintainya melebihi setiap manusia yang ada di bumi ini.
||Baca Juga: Memahami Kunci Kecukupan Dalam Al Qur'an
Kita mencintai pasangan kita karena bersama-sama membangun kecintaan kita kepada Allah. Sehingga konflik itu hadir sebagai hikmah untuk menghadirkan cinta kepada Allah.
Sebab terjadinya konflik dalam rumah tangga, ialah
1. Mereka yang salah niat dalam pernikahan
Tampaknya kecil namun seiring berjalannya waktu meningkatkan pertikaian antara suami istri. Karena niat menjadi pengaruh dalam kita melakukan sesuatu hal dalam kehidupan berkeluarga. Jika niatmu karena Allah maka setiap yang kamu lakukan ada kebaikan tetapi jika niatnya salah maka akan menimbulkan berbagai macam konflik dalam kehidupan kita.
Semua itu ditangan Allah, ketika niatnya salah maka akan Allah tinggalkan. Semua hati manusia ada diantara jari jemari Allah, saat ada masalah dengan pasangan jangan fokuskan diri terhadap dia tetapi fokus kepada Allah karena Allah yang nanti akan mengembalikan hatinya.
2. Ketika memaknai pernikahan sebatas urusan transaksional
Disaat kita sudah melupakan ihsan dalam pernikahan, maka pertengkarannya akan semakin sering terjadi. Dalam kehidupan selalu ada kondisi pasang surut, sehingga ketika suami berbuat kebaikan pada istri dan tidak langsung dibalas kebaikan juga, maka Allah yang akan membalas kebaikan suami tersebut begitu juga sebaliknya. Orang bertakwa akan memilih bertahan dalam kehidupan karena ihsan, karena ia tahu Allah sedang melihat kebaikan yang sedang ia lakukan.
Karena kebaikan itu tidak pernah basi dan expired. Terutama kebaikan yang kita berikan kepada pasangan. Jaga ucapan kepada pasangan yang menimbulkan buah pahit dimasa mendatang. Konsep tertinggi dalam kehidupan berumah tangga adalah ihsan, kita melakukan semata mata karena Allah maha melihat.
3. Ketika layar berkembang maka ilmunya tidak menyertai
Laki-laki ingin dihargai dan perempuan ingin dipahami. Untuk bisa saling memahami kalimat tadi suami istri butuh ilmunya. Adanya benturan ketika kita tidak mengupgrade ilmu setelah berumahtangga. Pertengkaran itu terjadi ketika mereka tidak mempelajari ilmunya.
Maka teruslah belajar untuk bisa saling mengisi satu dengan yang lainnya. Ketika suami istri saling ridha maka lahirlah anak keturunan yang shalih shalihah.
Dengan memahami setiap hikmah yang hadir dalam konflik tersebut membuat kita mengetahui banyak kebaikan dan keberkahan yang akan Allah hadirkan untuk kita.

Komentar